PSBB Jakarta, Ini Saran Doni Monardo untuk Pemakaman Pasien COVID-19

Better late than sorry.  Lebih baik terlambat daripada menyesal.  Untuk ke sekian kalinya saya menggunakan istilah ini dalam artikel maupun konten media sosial yang saya buat selama masa pandemik virus corona ini. 

Kali ini, di hari ke-11 pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), saya menggunakan kalimat itu lagi, untuk mengomentari pernyataan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo.

Hari ini, dalam pernyataan persnya, Doni menyampaikan, pemerintah menerapkan pemakaman dengan prosedur penanganan COVID-19 baik bagi jenazah yang positif terjangkit virus ini maupun terhadap pasien dalam pengawasan (PDP) atau suspek.

Doni mengatakan prosedur ini diterapkan untuk mengantisipasi berubahnya status pasien, yang banyak di antaranya belum keluar saat pasien meninggal dunia.

Mantan Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) itu menyinggung  kasus salah satu pejabat yang meninggal dunia, yang dimakamkan dengan prosedur biasa.  Pejabat itu belum dinyatakan positif virus corona ketika meninggal dunia.  Setelah beberapa hari kemudian, pejabat tersebut dinyatakan positif hasil tesnya.

Mengapa saya katakan lebih baik terlambat daripada menyesal? Karena pandemik ini belum mencapai puncaknya, termasuk di Jakarta dan Indonesia. Sulfikar Amir, profesor madya bidang sosiologi bencana di National Technological University (NTU) Singapura membuat model estimasi jumlah kasus COVID-19 di Jakarta. Jumlahnya sudah mencapai 76.605 orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *